Home / Artikel / INI PENJELASAN 10 BASIS PEMILIH RELAWAN DEMOKRASI

INI PENJELASAN 10 BASIS PEMILIH RELAWAN DEMOKRASI

1. BASIS KELUARGA

Basis keluarga sebagai salah satu orientasi gerakan sosialisasi dan pendidikan pemilih, karena keluarga merupakan unit sosial-ekonomi terkecil dalam masyarakat yang merupakan landasan dasar dari semua insitusi.

Pada akhirnya semua basis pemilih yang ada di tengah-tengah masyarakat akan kembali kepada keluarganya masing-masing. Kebutuhan mereka baik secara fisik maupun psikologis anggotanya dipenuhi melalui struktur keluarga, termasuk kebutuhan sosialisasi dan pendidikan pemilih.

Bentuk kegiatan yang dapat dilakukan adalah sosialisasi dan pendidikan pemilih ke ibu-ibu arisan, perkumpulan rutin tingkat RT/RW, dan sebagainya.

2. BASIS PEMILIH PEMULA

Pemilih Pemula adalah mereka yang akan memasuki usia memilih danakan menggunakan hak pilihnya untuk pertama kali dalam Pemilu, kisaran usia pemilih pemula adalah 17-21 tahun.

Pemilih Pemula yang berstatus mahasiswa merupakan elemen pentingdalam struktur dan dinamika politik dan demokrasi. Mereka memilikipotensi besar sebagai penggerak perubahan, karena mempunyai horizonatau cakrawala yang luas di antara masyarakat.

Bentuk kegiatan yang dapat dilakukan adalah sosialisasi dan pendidikan pemilihke sekolah-sekolah (SMA/SMK/MA/sederajat) dan sebagainya.

3. BASIS PEMILIH MUDA

Pemilih muda berusia 22 tahun sampai 30 tahun, baik yang berstatus mahasiswa, pekerja maupun belum/tidak bekerja penting mendapat sosialisasi dan pendidikan pemilih, karena mereka akan mengisi struktur pemilih dalam jangka waktu yang sangatlama.Kebiasaan mereka memilih harus dipupuk dan disemai agar tidak tergerusoleh apatisme maupun pragmatisme politik yang pada akhirnya akanmerusak kualitas demokrasi.

Bentuk kegiatan yang dapat dilaksanakan adalah sosialisasi dan pendidikan pemilihke organisasi kepemudaan, mahasiswa kampus dan sebagainya.

4. BASIS PEMILIH PEREMPUAN

Basis pemilih perempuan dapat memainkan peran untuk memotivasi dan mengedukasilingkungan, setidaknya pada komunitasnya. Pengaruh kehidupan keluarga yang didominasi oleh peran perempuan dan seorang ibu, baik langsung maupun tidak langsung merupakan struktur sosialisasi politik pertama yang dialami seseorang sangat kuat dan kekal.

Bentuk kegiatan yang dapat dilakukan adalah sosialisasi dan pendidikan pemilihke kelompok-kelompok perempuan, ibu-ibu/emak-emak kompleks, dan sebagainya.

5. BASIS PEMILIH PENYANDANG DISABILITAS

Penyandang disabilitas menjadi basis sosialisasi dan pendidikanpemilih, karena terdapat kecenderungan mereka tidak akan menggunakanhak pilih jika tidak ada kepastian bahwa penyelenggaraan Pemilu benar-benaraksesibel terhadap keterbasan yang mereka miliki.

Untuk itu, diharapkan adanya sosialisasi tentang kebijakan dan bentuk layanan ramah disabilitas untuk semua jenis disabilitas. Hal ini diperlukan mengingat banyaknya ragam pemilih disabilitas dan perbedaan kebutuhan layanan dari setiap jenis disabilitas.

Bentuk kegiatan yang dapat dilakukan adalah sosialisasi dan pendidikan pemilih ke komunitas/masyarakat penyandang disabilitas.

6. BASIS PEMILIH BERKEBUTUHAN KHUSUS

Pemilih berkebutuhan khusus, yakni pemilih yang mencakup masyarakatdi wilayah perbatasan atau terpencil, penghuni lembaga permasyarakatan,pasien dan pekerja rumah sakit, pekerja tambang lepas pantai, perkebunan,dan kelompok lain yang terpinggirkan.

Bentuk kegiatan yang dapat dilakukan adalah sosialisasi dan pendidikan pemilihke narapidana penghuni Lembaga Pemasyarakatan, pegawai perkebunansawit, masyarakat adat dan sebagainya.

7. BASIS PEMILIH MARGINAL

Kelompok marginal menjadi basis sosialisasi dan pendidikanpemilih, karena mereka tidak memiliki sumber daya, akses informasi,dan kepercayaan diri yang cukup. Mereka memiliki hak hidup dan hakberpartisipasi yang sama dengan warga Negara lainnya.

Tetapi situasi dankondisi kehidupan membuat mereka dalam posisi yang tidak berdaya dantidak memiliki motivasi berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan politik. Mereka membutuhkan sosialisasi, motivasi dan fasilitasi untuk dapat berpartisipasi, sehingga secara sosial mereka tidak makin terbelakang.

Contoh bentuk kegiatannya adalah sosialisasi dan pendidikan pemilih ke masyarakat nelayan pinggiran, komunitas waria, LGBT, masyarakat miskin kota, pemulung, dan sebagainya.

8. Basis Komunitas

Komunitas adalah sekelompok orang yang saling peduli satu sama lainlebih dari yang seharusnya. Dalam sebuah komunitas terjadi relasi pribadiyang erat antar anggota komunitas tersebut, karena adanya kesamaan nilaidan kepentingan.

Komunitas dapat dibagi 2 (dua) komponen. Pertama, berdasarkanlokasi, di mana sebuah komunitas dapat dilihat sebagai tempat sekumpulanorang mempunyai sesuatu yang sama secara geografis. Kedua, berdasarkanminat sekelompok orang yang mendirikan suatu komunitas, karenaketertarikan dan minat yang sama seperi komunitas hobbi yang saat inisedang menjadi tren di masyarakat kita, seperti komunitas sepeda santai,komunitas fotograpi, komunitas skateboard dan lain sebagainya.

Ini bentuk kegiatan yang dapat dilakukan, yakni sosialisasi dan pendidikan pemilihke komunitas pecinta kuliner, komunitas keolahragaan, komunitashobbi, komunitas masyarakat jawa/minang/bugis/dayak/papua dan lainsebagainya.

9. BASIS KEAGAMAAN

Sosialisasi dan pendidikan pemilih kepada basis keagamaan selama inidiorientasikan kepada tokoh-tokoh agama saja. Akibatnya jamaah berbagaiagama di Indonesia yang jumlahnya sangat besar dan tak sebanding denganjumlah tokohnya, sehingga tidak tersentuh.

Orientasi sosialisasi dan pendidikan pemilih kepada basis keagamaankedepan harus diubah dari gerakan yang elitis menjadi gerakan popular. Distribusi dan konsumsi informasi Kepemiluan dan Demokrasi harus masuk ke dalam ruang kehidupan para jamaah.

Bentuk kegiatannya yang dapat dilakukan adalah sosialisasi dan pendidikan pemilih ke jamaah sholat Jumat, jamaah Gereja/Pura/Wihara/Klenteng dan lain sebagainya.

10. BASIS WARGA INTERNET (NETIZEN)

Aktivitas komunikasi dan akses informasi menggunakan internet tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Melalui smartphone, manusia milenial dapat berkomunikasi dan mengakses informasi kapanpun dan di manapun sepanjang tersedia jaringan komunikasi.

Intensitas komunikasi dan persebaran informasi yang begitu tinggi didunia maya menjadi alasan bagi penyelenggara Pemilu untuk menyasar basiswarga Internet sebagai basis gerakan sosialisasi dan pendidikan pemilih. Penyelenggara Pemilu di semua satuan kerja (satker) harus membentukdan menghidupkan media komunikasi berbasis internet seperti websitedan media sosial seperi twiter, facebook, instagram dan platform mediasosial lainnya. Diskursus politik, demokrasi dan Pemilu di dunia maya harusmampu diimbangi melalui status, kicauan dan komentar-komentar yangsegar, elegan, cerdas dan mendidik.

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top